Purnama dan Kemarau

Kulihat malam-malam ini
Cerah berkat purnama
Dia tidak lagi malu-malu
Memberi penerangan tanpa bayar dulu

Kulihat bintang-bintang
Pantaslah malam-malam ini kubilang
Mereka adalah para gemintang
Bercahaya terang menghiasi cakrawala

Tapi teringat olehku
Saat ini kemarau
Hujan mulai rajin bersembunyi
Pantaslah langit biru tiada hiasan putih

Banyak ibu-ibu bersama ketika senja
Jingga dan cokelat kayu tua
Mereka mulai berbagi rasa
Soal air di dalam tanah mereka

Maka aku menatap dengan gelisah
Banyak dedaunan tumbang
Sebuah pertanda zaman
Tapi bolehkah diabaikan?

Padahal mereka kompak tumbangnya
Apakah itu merangas?
Atau memang mengering memanas?
Keriput seperti akhir hidup manusia

Kembali kulihat langit
Setelah aku bermenung lama
Purnama masih di sana
Menerangi sisa malam yang kian merana

Tiada lagi para gemintang
Cuma awan putih tipis
Bukan pula pembawa harapan hujan
Sekedar pengisi saja