Pengalaman Dunia Internet yang Belum Sempurna

Memasang Jaringan Intenet Rumahan Bukan Lagi Sebuah Mimpi

Jika berbicara masa 2010-an, ketika di masa itu jaringan ADSL masih berjaya, memasang mereka ke rumah berasa seperti hal yang berat. Padahal, kalau ditilik harganya kembali, tergolong sangat murah untuk ukuran kesejahteraan pribadi saat ini, setidaknya untuk kelas paket residensial. Tetapi, balik ke masa itu, harga yang berkesan murah itu bukanlah sesuatu yang murah dan mundane. Buktinya, bahkan tidak banyak rumah yang mau memasang internet ADSL, meski mereka tergolong mampu, bahkan kaya, dalam konteks kesejahteraan di masa itu.

Hal ini juga menegaskan bahwa pada era 2010-2015, internet rumahan belumlah sesuatu yang dipandang perlu. Bahkan, di era tersebut, pandai browsing, membuat akun Facebook, aktif di forum digital, semua itu dikira perbuatan orang yang pintar. Lagipula, di zaman itu, warnet masih mendominasi dan menjadi tempat tongkrongan penting bagi remaja dan pemuda di zamannya. Tidak pelak, bahkan yang sudah tua juga ikut nimbrung di warnet. Jika pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, dan mereka berinteraksi layaknya tanpa sekat yang nyata, warnet demikian akan dianggap tempat kedua terbaik, sekedar untuk melepas penat dan beban mental.

Hal lain yang membuat pemasangan internet ADSL berasa menakutkan pada zamannya, yaitu rumor soal persyaratan dan mekanisme yang ribet dan berbelit-belit. Satu yang dulu sangat kentara, bahwa rumor pemasangan jaringan ADSL harus disertai dengan pemasangan jaringan telepon. Ketika menengok kembali sisa pamflet promo Speedy, ternyata ada paket internet only. Malahan, kebersamaan dengan jaringan telepon adalah suatu add-on, sebuah fitur tambahan, bukan hal yang diwajibkan. Mungkin penulis akan menyalahkan diri sendiri, karena isi kepalanya masih berupa textbook dibandingkan informasi harian yang subtil seperti itu. Walau dikata masih SD, tapi penulis sudah bisa berinternet via warnet. Seharusnya dulu bukan sibuk main game atau streaming anime saja.

Tapi, pada era digital ini, melakukan instalasi jaringan internet ke rumah bukanlah hal yang menakutkan. Sangat mudah, bahkan ISP-nya sendiri yang giat mendatangi kita di rumah. Persyaratan juga tergolong mudah: Pastikan lokasi rumah sudah dijangkau oleh jaringan fiber, ajukan pendaftaran, sales datang ke rumah dan mengadakan survei ringan, teknisi datang dan memasang kabel dari terminal terdekat ke rumah melalui ONT. Voila. Tinggal menikmati dan membayar bulanan.

Kemudahan yang didapatkan di era kekinian ini menegasikan anggapan usang, bahwa internet rumahan itu susah dipasang dan mahal. Jelaslah, jika dibandingkan rasio antara kecepatan dan harga, maka harga paket internet rumahan kekinian jelas jauh lebih murah. Meski harga paket internet rumahan era ADSL berkesan murah, tapi kecepatannya sangat pelan jika dibandingkan dengan era kekinian. Juga, secara lazim dulu jaringan ADSL rumahan berkesan eksklusif. Tapi, di era kekinian, apalagi di skala rumahan, menggunakan skema LAN untuk satu perangkat itu kesannya egois sekali. Ini adalah era Wifi, yang mana kata internet sendiri seakan-akan sudah diasosiasikan dengan Wifi. Memasang jaringan internet sudah sama derajatnya dengan memasang jaringan Wifi.

Namun, apa yang dirasa kurang?

Namun tetap saja, tidak sempat merasakan kinerja dari internet ADSL secara pribadi komputer rumah, melewatkan momen itu berasa seperti satu kekosongan dari pengalaman berinternet. Menikmati jaringan ADSL di warnet sejatinya adalah pengalaman berinternet tersendiri, dan sayangnya lebih kepada kenangan dan pengalaman komunal dibandingkan pribadi.

Memang di warnet dulu adalah masa belajar berinternet yang sangat intensif. Bermain game online, paham tentang namanya latensi, update patch, unduh client, RTO, top-up, voucher top-up, dan microtransactions. Berselancar di dunia maya kala itu, belumlah didominasi oleh Instagram dan scroll TikTok, melainkan blogging. Pada masanya, blogging setara dengan ChatGPT masa kini. Well, pada masa itu, streaming di Youtube belumlah semapan sekarang, dan lebih didominasi video mistis, dan cuplikan anime.

Tapi, keinginan dan nafsu pribadi tidak pernah berbohong. Selalu terselip dalam pikiran

Andai dulu pernah memasang Speedy ke rumah

Itulah poinnya, sebab dengan memanfaatkan jaringan ADSL di warnet, meski mendapat benefit sosialnya, tetapi absen di pengalaman pribadi. Tentu benak akan bertanya-tanya, apakah benar sesulit itu persyaratan dan pemasangannya? Bagaimana berinteraksi dengan teknisi pemasangan di era ADSL itu? Bagaimana rasanya memiliki jaringan pribadi ke komputer sendiri di masa remaja? Bagaimana rasanya dan caranya membayar tagihan bulanan pada masa itu?

Ketika waktu berlalu dan usia bertambah, segala sesuatu di masa lalu selalu dipikirkan dalam skema what if. Hal ini menjadikan kita banyak berandai-andai, bagaimana garis waktu alternatif itu ada dan bekerja. Hal ini bukan berarti kita menyalahkan jalinan takdir, tetapi sekedar menjalankan pikiran yang melayang di usia dewasa.

Internet Broadband, Penyelamat Kala Itu

Sebuah bisnis tentu ada masanya. Apalagi untuk sekelas ekonomi kabupaten era 2010-an. Apalagi warnet yang kehidupannya sangat bergantung dari pasar utamanya, anak sekolahan.

Dalam pemahaman anak sekolahan sebagai pasar utama warnet kabupaten, bukan sekedar ketersediaan mereka membayar billing. Hal penting lain, yaitu sikap positif dari anak-anak ini ketika menggunakan jasa warnet. Tidak sepatutnya mereka bermaim terlalu emosional sehingga merusak perangkat komputer, ataupun fasilitas lain di dalam warnet. Jelaslah, hal ini akan memaksa pemilik warnet mengeluarkan lebih banyak uang sebagai biaya tidak terduga. Sesuatu yang perlahan-lahan menguras tabungan dan merusak keuangan warnet.

Singkat cerita, warnet langganapun gulung tikar. Tapi, beruntung saat itu sudah memiliki netbook dan sebuah modem 3G. Sebuah modem broadband, meski maksimal jaringannya cuma HSDPA/WCDMA. Di era itu, ketika jaringan 3G sesuatu yang seperti angin: Kadang datang, kadang pergi. Tapi, kehadirannya adalah penyelamat ketika jaringan ADSL via warnet tidak bisa diharapkan.

Bukan berarti warnet sudah punah sepenuhnya dari tempat tinggal penulis pada saat itu. Cuma ada dua permasalahan utama, yaitu jumlah sedikit membuat sisa komputer yang lowong menjadi bahan rebutan, dan lokasinya yang berjauhan. Kombinasi kedua hal tersebut adalah hal yang menakutkan bagi anak kabupaten. Jumlah mereka banyak, sangat antusias dengan dunia internet meski sebatas dunia gaming, dan jalan utama mereka menikmati hal tersebut adalah dengan menggunakan jasa warnet. Rebutan adalah hal yang tidak bisa dihindari, dan ini bukan sesepele yang kuat yang akan menang, karena akan banyak pihak yang ikyt campur kalau terjadi perselisihan.

Penulis memandang diri penulis cukup beruntung. Orang tua membelikan netbook sebagai sarana belajar. Tidak salah karena kelak penulis banyak membuka halaman Wikipedia, membaca blog, dan mencari soal-soal ujian. Di skala berinternet di zaman itu, hal demikian termasuk kegiatan belajar di dunia digital. Zaman itu, belajar dari media video streaming belumlah lazim, meskipun sudah ada video-video demikian. Utamanya video-video flash.

Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa netbook, meski processornya remeh, RAMnya kecil, walau ROMnya cukup overkill, gawai seukuran buku paket itu tetap bisa digunakan sebagai media amusement. Banyak game, terutama yang tergolong jadul di era itu, bisa dimainkan. Jadi, ya, belajar dan bermain di satu perangkat yang sama. Meskipun, belajar sudah banyak diselesaikan secara konvensional sebab belum ada tuntutan digital di masa itu. Belajar di internet lebih kepada inisiatif dan sebuah upaya meloncat lebih awal.

Kebutuhan berinternet di momen itu dipenuhi sepenuhnya dengan jaringan broadband. Dulu masih ada paket unlimitednya, meski memiliki sistem FUP, sebuah istilah yang sangat dikenal oleh satu generasi di masanya. Sampai-sampai banyak yang berupaya mengakali agar betulan unlimited dengan cara query, vpn, proxy, dan se macamnya.

Bagaimanapun itu, berinternet di era broadband adalah momen yang unik tersendiri. Dikarenakan belum merata jaringannya, maka harus dicari posisi terbaik agar bukan sekedar HSDPA, tetapi memang ada jaringannya. Amit-amit kalau sampai turun kasta ke Edge. Lampu indikator modem adalah segalanya. Apakah hijau, biru, atau biru terang, apalagi merah.

Berinternet di era broadband ini bukanlah berinternet sepuasnya. Selain ada FUP yang membuat streaming dan download berasa mahal, kecepatan yang terkadang turun gunung membuat berinternet berat berasa terlalu sulit digapai. Yang jelas memang ini adalah masa emas dari browsing dan blogging. Dikarenakan bandwidth yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut receh, maka sentral utama kegiatam berinternet era broadband adalah di kedua poin ini.

Bahkan membuka dan scroll Facebook saja perlu perhitungan di masa itu. Padahal belum ada reels dan video yang jelas merupakan lintah kuota. Setidaknya keterbatasan ini memaksa pengguna jadi sadar diri dan berinternet dengan penuh perhitungan, walau tanpa kertas-kertas yang dipenuhi angka-angka.

Walau bagaimanapun, itu tetaplah momentum yang membekas soal pengalaman berinternet. Di era broadband, prosesnya sederhana dan membosankan: Hidupkan laptop, colokkan modem, tunggu sebentar, aplikasi modem terbuka otomatis, klik hubungkan, tunggu sebentar dan berdoalah agar lampu indikator beralih dari hijau ke biru lalu biru muda, voila. Simpel. Memang tidak sesimpel di era WiFi fiber, tapi rentetan itu membuat kesan tersendiri.